Lot/Batch vs Item-Level:

Kenapa Tanggal Kedaluwarsa per Batch Sering Tidak Cukup

 

Sebagian besar sistem inventori mengelola expiry date pada tingkat batch atau lot: satu batch, satu tanggal. Pendekatan ini sederhana dan untuk banyak bisnis sudah memadai. Namun ada situasi di mana pelacakan per batch mulai kehilangan ketelitian, dan di titik itulah pelacakan per unit (item-level) memberi nilai. 

Artikel ini membandingkan keduanya secara adil, termasuk kapan batch sebenarnya sudah cukup. Ini bagian dari panduan lengkap manajemen expiry date. 

 

Definisi Singkat 

Batch/lot tracking: sekelompok unit yang diproduksi bersama dalam satu proses diberi nomor batch dan tanggal kedaluwarsa yang sama. Sistem mencatat jumlah stok per batch per lokasi. 

Item-level tracking: setiap unit atau kemasan memiliki identitas unik (misalnya serial number atau kode unik pada label), terhubung dengan batch dan tanggal kedaluwarsanya. Sistem mencatat perjalanan setiap unit. 

Perlu dibedakan juga dari serial number tracking. Serial number adalah salah satu cara memberi identitas unik per unit, sedangkan item-level adalah konsep yang lebih luas: kemampuan mengelola dan melacak stok pada granularitas unit. 

 

Kapan Pelacakan Batch Sudah Cukup 

Pelacakan batch masuk akal ketika: 

  • Barang berpindah dalam kuantitas besar dan seragam, misalnya pallet penuh dari satu batch ke satu penerima. 
  • Jumlah SKU dan variasi batch relatif sedikit. 
  • Barang berharga rendah per unit, sehingga biaya pelabelan per unit tidak sebanding. 
  • Regulasi atau pelanggan tidak menuntut ketelusuran pada tingkat unit. 

 

Dalam kondisi seperti ini, tambahan kompleksitas item-level bisa jadi tidak sepadan. Pilihan terbaik bergantung pada profil produk dan risiko Anda. 

 

Di Mana Pelacakan Batch Mulai Kehilangan Akurasi 

1. Batch terpecah ke banyak tempat 

Satu batch berisi 5.000 unit jarang tetap utuh. Sebagian masuk ke rak picking, sebagian di reserve, sebagian dikirim ke cabang, sebagian dikeluarkan sebagian-sebagian untuk pesanan. Pada pelacakan batch, sistem mengandalkan kuantitas per lokasi. Jika ada selisih pencatatan, kuantitas per batch menjadi kabur, tanpa cara mudah menunjuk unit mana yang hilang atau salah tempat. 

2. Batch bercampur secara fisik 

Dalam praktik, petugas menaruh sisa batch lama bersama batch baru di satu slot karena tempat penuh. Sistem mungkin hanya mencatat satu batch di slot itu, sementara fisiknya dua. Hasilnya: picking mengambil unit yang salah, dan FEFO terlanggar tanpa disadari. Lihat Risiko Mencampur Batch dalam Satu Lokasi. 

3. Retur yang tidak jelas asalnya 

Barang retur dari pelanggan sering tidak membawa informasi batch yang jelas. Tanpa identitas per unit, sulit memastikan sisa umurnya, sehingga tim memilih mengkarantina semuanya atau mengembalikan ke stok tanpa verifikasi. Keduanya merugikan. Lihat Retur Barang dan Pengecekan Expiry. 

4. Recall yang tidak presisi 

Saat produsen menarik satu batch, Anda perlu tahu ke mana saja unit batch itu pergi. Dengan pelacakan batch, Anda tahu pelanggan mana menerima batch itu, tetapi tidak selalu tahu unit mana yang masih di gudang, mana yang sudah di jalan, dan mana yang sudah terjual. Dengan item-level, jawabannya langsung per unit. 

5. Satu batch, banyak tanggal pengemasan 

Pada beberapa produk, satu batch produksi dikemas dalam waktu berbeda, sehingga sisa umur antar kemasan tidak identik. Pelacakan batch menganggap semuanya sama. 

 

Perbandingan Langsung 

Aspek 

Batch/Lot 

Item-Level 

Granularitas 

Kelompok unit 

Setiap unit 

Akurasi FEFO 

Baik bila batch tidak terpecah/campur 

Sangat tinggi, bahkan saat terpecah 

Ketelusuran recall 

Sampai tingkat batch 

Sampai unit dan penerima akhir 

Penanganan retur 

Perlu asumsi/verifikasi manual 

Identitas unit dapat dicek 

Biaya pelabelan 

Rendah 

Lebih tinggi (label unik per unit) 

Kompleksitas proses 

Lebih sederhana 

Lebih tinggi, perlu disiplin scan 

Cocok untuk 

Volume besar, nilai per unit rendah 

Nilai tinggi, regulasi ketat, retur banyak 

 

Biaya dan Manfaat: Cara Menimbangnya 

Item-level bukan otomatis lebih baik. Ia menambah beban pelabelan dan pemindaian, sehingga perlu dibandingkan dengan manfaat yang bisa diukur: 

Manfaat yang bisa dihitung: 

  • Penurunan nilai write-off karena FEFO lebih akurat. 
  • Waktu yang dihemat saat stock opname dan investigasi selisih. 
  • Biaya recall yang lebih kecil karena cakupan penarikan lebih presisi. 
  • Berkurangnya klaim pelanggan karena barang sisa umur pendek. 

 

Biaya yang perlu diperhitungkan: 

  • Pencetakan dan penempelan label unik. 
  • Waktu pemindaian tambahan pada penerimaan dan pengeluaran. 
  • Perangkat scanner dan perangkat lunak. 
  • Pelatihan dan perubahan SOP. 

 

Gunakan kerangka ROI Pengurangan Barang Kedaluwarsa untuk membandingkannya dengan angka Anda sendiri. 

 

Pendekatan Bertahap: Tidak Harus Semua SKU 

Anda tidak perlu menerapkan item-level untuk seluruh katalog. Pendekatan yang realistis adalah memulai dari SKU yang paling berisiko atau paling bernilai: 

  • Nilai per unit tinggi: kerugian per unit kedaluwarsa besar. 
  • Risiko regulasi: obat, alat kesehatan, produk bayi, suplemen. 
  • Tingkat retur tinggi: barang yang sering kembali dari pelanggan. 
  • Umur simpan pendek: produk dengan jendela jual sempit. 

 

Untuk SKU lainnya, batch tracking yang disiplin sering sudah cukup. Dengan WMS yang mendukung kedua mode, Anda bisa mengatur level pelacakan per kategori produk. 

 

Dampak pada Label dan Proses Penerimaan 

Item-level menuntut data yang bisa dibaca mesin pada setiap unit. Pada praktiknya, ini dilakukan lewat barcode 2D yang memuat GTIN, batch, expiry, dan bila perlu serial number. Standar seperti GS1 DataMatrix dirancang untuk keperluan ini, lihat Barcode 2D dan GS1 DataMatrix. 

Jika pemasok Anda belum menyediakan label 2D, ada dua pilihan: meminta pemasok menambahkannya, atau membuat label internal saat penerimaan. Opsi kedua menambah pekerjaan di dock, tetapi bisa dimulai pada SKU prioritas saja. 

 

Pertanyaan Penentu untuk Memilih 

Jawab pertanyaan ini dengan jujur: 

  • Apakah batch Anda sering terpecah ke banyak lokasi atau cabang? 
  • Apakah pernah ada batch campur dalam satu slot atau satu karton? 
  • Seberapa sering barang retur dan seberapa sulit memverifikasinya? 
  • Apakah regulasi atau pelanggan meminta ketelusuran sampai unit? 
  • Berapa kerugian per unit bila barang itu kedaluwarsa? 

 

Jika dua atau lebih jawaban mengarah pada “ya” atau “besar”, kandidat kuat untuk item-level. 

 

Skenario Singkat: Satu Batch yang Terpecah 

Gudang menerima 1.000 unit batch X. Dalam dua minggu: 300 unit ke cabang A, 200 unit ke pelanggan B, 150 unit retur kembali dengan identitas tidak jelas, sisanya terbagi di tiga lokasi rak. Saat produsen mengumumkan bahwa batch X bermasalah, pertanyaannya sederhana: di mana semua unit batch X sekarang? 

Dengan pelacakan batch, Anda menelusuri dokumen satu per satu dan sebagian jawabannya adalah estimasi. Dengan pelacakan item-level, sistem menampilkan daftar unit, lokasi saat ini, dan penerima akhir dalam hitungan menit. Selisih waktu dan kepastian inilah nilai utama item-level. 

 

Kesimpulan 

Pelacakan batch adalah fondasi yang baik dan cukup untuk banyak bisnis. Namun saat batch terpecah, bercampur, diretur, atau perlu ditarik dengan presisi, tanggal per batch tidak lagi bisa menjawab pertanyaan paling penting: unit mana yang kedaluwarsa lebih dulu dan di mana ia berada sekarang. 

Pelacakan item-level menutup celah itu dengan harga berupa disiplin pelabelan dan pemindaian. Mulailah dari SKU yang risikonya tertinggi, ukur hasilnya, lalu perluas. 

Berikutnya, pelajari standar yang biasa dipakai pelanggan besar di Sisa Masa Simpan: Standar Minimum dari Retailer dan Distributor. 

 

 

Scroll to Top