Perbedaan Software WMS SKU-Level dan WMS Item-Level
Dalam dunia manajemen gudang yang semakin kompleks dan dinamis, penggunaan sistem manajemen gudang atau Warehouse Management System (WMS) menjadi kebutuhan yang sangat penting. WMS berperan untuk mengatur, mengelola, dan mengoptimalkan proses-proses operasional dalam gudang, mulai dari penerimaan barang, penyimpanan, pengambilan barang (picking), hingga pengiriman barang ke tujuan akhir.
Dua konsep yang sering muncul dalam konteks WMS adalah “WMS SKU-Level” dan “WMS Item-Level.” Kedua pendekatan ini digunakan untuk mengelola persediaan barang dalam gudang, namun memiliki perbedaan mendasar dalam hal bagaimana data persediaan disusun, dipantau, dan dikelola. Artikel ini akan membahas perbedaan utama antara WMS SKU level dan WMS Item level, serta dampaknya terhadap manajemen operasional gudang.
1. Definisi dan Konsep Dasar
WMS SKU-Level
SKU (Stock Keeping Unit) adalah kode unik yang digunakan untuk mengidentifikasi produk tertentu dalam persediaan. Setiap SKU merepresentasikan produk yang spesifik, tetapi tidak mencakup informasi rinci tentang variabel yang lebih detail seperti nomor seri, tanggal produksi, atau masa kadaluarsa.
Dalam WMS yang berbasis SKU level, sistem fokus pada manajemen persediaan berdasarkan SKU produk, di mana setiap SKU diperlakukan sebagai satu entitas tersendiri tanpa memperhatikan variabilitas produk yang lebih spesifik di dalam SKU tersebut.
Misalnya, sebuah produk yang sama (seperti botol minuman 500ml) dapat memiliki ribuan unit di gudang, namun dalam WMS berbasis SKU, semua unit tersebut dianggap sebagai satu entitas SKU tanpa memandang perbedaan batch atau nomor seri.
WMS Item-Level
Sementara itu, WMS Item Level memiliki pendekatan yang lebih detail dibandingkan dengan SKU level. Pada WMS Item Level, sistem tidak hanya melacak produk berdasarkan SKU, tetapi juga memperhitungkan atribut-atribut spesifik setiap unit produk yang unik, seperti nomor seri, batch, tanggal kadaluarsa, atau informasi unik lainnya.
Dengan kata lain, manajemen pada level item memungkinkan perusahaan untuk memantau setiap unit produk secara individual.
Dalam pendekatan ini, produk yang terlihat sama (misalnya dua botol minuman 500ml) dapat dilacak sebagai item yang berbeda jika mereka memiliki perbedaan dalam atribut, seperti perbedaan batch produksi atau tanggal kadaluarsa.
2. Perbedaan Kunci antara WMS SKU-Level dan WMS Item-Level
a. Tingkat Detail dalam Pelacakan persediaan
Perbedaan paling mencolok antara WMS SKU dan Item Level adalah sejauh mana detail persediaan dilacak dalam sistem.
– SKU Level: Sistem WMS yang berbasis SKU akan melacak stok barang secara agregat berdasarkan SKU. Sistem ini hanya mencatat jumlah unit yang ada di gudang tanpa memperhatikan atribut khusus dari produk tersebut. Misalnya, jika ada 1.000 unit botol minuman 500ml dengan SKU yang sama, WMS hanya mencatat 1.000 unit tanpa memisahkan mana yang diproduksi lebih dulu atau mana yang memiliki tanggal kadaluarsa yang lebih cepat.
– Item Level: Sebaliknya, WMS berbasis item level memungkinkan pelacakan yang lebih granular. Setiap unit produk dapat dilacak secara terpisah berdasarkan informasi uniknya, seperti nomor batch atau nomor seri. Dengan demikian, jika ada 1.000 unit botol minuman 500ml dalam stok, WMS item level dapat mencatat kapan setiap unit diproduksi, tanggal kadaluarsa, dan nomor serinya, sehingga memungkinkan pengelolaan yang lebih detail.
b. Manajemen Produk yang lebih baik
– SKU Level: Sistem WMS yang hanya menggunakan SKU lebih cocok untuk produk-produk yang tidak memiliki banyak variasi atau tidak memerlukan pelacakan detail. Industri seperti retail atau distribusi dengan produk homogen seringkali lebih mengutamakan WMS SKU level, karena kompleksitas data persediaannya lebih rendah. Misalnya, jika sebuah perusahaan hanya perlu mengetahui jumlah total barang di gudang tanpa peduli kapan produk itu tiba atau diproduksi, WMS SKU sudah cukup.
– Item Level: WMS item level diperlukan semua industri dengan kebutuhan pelacakan yang lebih baik, tidak hanya industri farmasi, makanan, atau barang elektronik namun semua industri memerlukan WMS Item-level. Di sektor-sektor ini, mengetahui detail produk secara rinci sangat penting. Misalnya, di industri farmasi, produk sering kali memiliki nomor batch yang berbeda dan masa kedaluwarsa yang berbeda pula. Oleh karena itu, manajemen yang detail hingga ke level item menjadi sangat penting untuk memastikan keamanan, kualitas, dan kepatuhan terhadap regulasi.
c. Pengelolaan Proses Pengambilan (Picking) dan Pengiriman
– SKU Level: Pada WMS berbasis SKU, proses pengambilan barang atau picking seringkali lebih sederhana. Ketika ada permintaan pengiriman 100 unit produk dengan SKU tertentu, WMS hanya akan mengarahkan pekerja gudang untuk mengambil produk tersebut dari lokasi penyimpanan tanpa memperhatikan atribut khusus seperti nomor seri atau tanggal kadaluarsa. Hal ini cocok untuk operasi dengan alur picking yang cepat dan tidak memerlukan detail yang mendalam.
– Item Level: Sebaliknya, pada WMS item level, proses picking bisa menjadi lebih kompleks. Sistem akan mengarahkan pengambilan barang berdasarkan atribut spesifik seperti first in first out (FIFO) untuk memastikan bahwa produk dengan tanggal kedaluwarsa lebih awal diambil terlebih dahulu. Ini memberikan keunggulan dalam hal kontrol kualitas dan memastikan bahwa produk yang rentan terhadap penurunan kualitas dikirim sesuai urutan yang tepat.
d. Akurasi stok, Akurasi semua transaksi di Gudang
– SKU Level: Jika implementasi menggunakan barcode, maka barcode yang digunakan adalah barcode SKU, kelemahan menggunakan barcode ini adalah Checker atau Kasir kerap salah melihat barang yang mirip, scan 1 barang dan diketik Qty. Untuk Picking yang diarahkan Software, misal Software menginstruksikan ambil barang A dari lokasi A1, namun picker ambil dari lokasi yang lain, maka secara barang tidak dapat dibedakan keduanya.
Human error ini yang kerap terjadi setiap hari dan ini tidak dapat dihindari dengan Software WMS SKU.
– Item Level: Jika implementasi menggunakan barcode, maka barcode yang digunakan adalah barcode serial, Kasir atau Checker wajib scan barang satu per satu, ini akan sangat meningkatkan Akurasi stok, akurasi pengiriman barang, dan akurasi semua transaksi di gudang.
e. Dampak terhadap Analitik dan Pelaporan
– SKU Level: Pelaporan pada WMS SKU level biasanya lebih fokus pada tingkat stok agregat dan pergerakan produk secara umum. Hal ini mungkin cukup untuk kebutuhan operasional dasar seperti mengetahui total jumlah stok atau performa produk dalam penjualan.
– Item Level: Sementara itu, WMS item level memungkinkan pelaporan yang lebih kaya dan mendalam. Karena sistem ini mampu melacak informasi unik dari setiap unit produk, analitik yang dihasilkan lebih detail dan dapat memberikan wawasan lebih mendalam. Misalnya, perusahaan dapat menganalisis performa penjualan berdasarkan batch atau meninjau efektivitas strategi FIFO dalam penanganan produk yang sensitif terhadap waktu.
Kekurangan WMS SKU Dibanding WMS Item Level
Keterbatasan dalam Pelacakan Detail
Dalam WMS SKU, produk dilacak berdasarkan kelompok SKU tanpa memisahkan unit individual. Hal ini menyulitkan untuk melacak item secara spesifik, terutama jika ada kebutuhan untuk mengetahui lokasi atau status setiap unit.
WMS item level memungkinkan pelacakan yang lebih rinci hingga ke level unit individu, yang sangat berguna untuk kebutuhan traceability, audit, dan pengelolaan pengembalian.
Kesulitan dalam Manajemen Serialisasi
WMS SKU tidak dirancang untuk mendukung manajemen serialisasi. Dalam industri seperti farmasi, otomotif, atau elektronik, pelacakan serial number sangat penting untuk mematuhi regulasi dan memastikan kualitas produk.
WMS item level memungkinkan pencatatan dan pelacakan serial number secara otomatis, sehingga lebih sesuai untuk kebutuhan ini.
Kurangnya Akurasi
WMS SKU jika diimplementasikan dengan barcode, maka setiap barang dengan SKU sama akan memiliki barcode yang sama pula. Hal ini memungkinkan scan 1 kali dan input qty seperti di supermarket.
Hal ini sangat rentan terhadap human error, dalam hal ini salah melihat atau salah input qty.
Saya pernah mengalami hal seperti ini: saya membeli 10 pcs pasta gigi merk “P” dengan size 3 size besar dan 7 size kecil. Kasir scan size besar 1 kali dan input qty = 10. Maka saya menerima struk 10 pasta gigi size besar semua! Hal ini dapat terjadi setiap hari dan tidak tergantung siapa kasirnya.
Sistem WMS Item-level menjadi solusi dari masalah ini.
Keterbatasan dalam Mendukung Strategi FEFO dan FIFO
First Expired, First Out (FEFO) dan First In, First Out (FIFO) adalah strategi penting dalam manajemen gudang, terutama untuk produk yang memiliki tanggal kedaluwarsa. WMS SKU tidak dapat secara efektif mendukung strategi ini karena tidak melacak tanggal masuk atau kedaluwarsa pada tingkat item.
WMS item level memungkinkan pencatatan tanggal masuk dan kedaluwarsa setiap unit, sehingga strategi FEFO dan FIFO dapat diimplementasikan dengan lebih akurat.
Sulit Mengelola Produk dengan Variasi Kompleks
Produk dengan variasi kompleks seperti pakaian (dengan ukuran dan warna yang berbeda) sering kali sulit dikelola menggunakan WMS SKU. Pendekatan ini hanya mencatat informasi pada level SKU tanpa memperhatikan perbedaan setiap unit.
WMS item level mampu mencatat dan mengelola informasi pada setiap unit produk, sehingga lebih fleksibel untuk menangani variasi tersebut.
Kurang Mendukung Sistem Picking yang Canggih
Sistem picking seperti pick-to-light atau voice picking membutuhkan data yang sangat spesifik tentang lokasi dan identitas item. WMS SKU hanya memberikan informasi generik, yang dapat memperlambat proses picking.
Dengan WMS item level, informasi yang lebih spesifik tersedia, sehingga proses picking menjadi lebih cepat dan akurat.
Potensi Kehilangan Data Saat Pengiriman atau Penerimaan
Dalam proses pengiriman atau penerimaan, identifikasi yang tidak akurat dapat menyebabkan kesalahan seperti pengiriman barang yang salah atau kehilangan barang. WMS SKU hanya mencatat jumlah unit berdasarkan SKU tanpa memverifikasi unit individu.
WMS item level dapat memverifikasi setiap unit selama proses pengiriman dan penerimaan, sehingga mengurangi risiko kesalahan.
Tidak Cocok untuk Industri dengan Kebutuhan Kepatuhan Ketat
Industri seperti farmasi, makanan, dan minuman sering kali memiliki regulasi ketat yang mengharuskan pelacakan unit individu untuk keperluan audit dan keamanan produk. WMS SKU tidak memenuhi kebutuhan ini.
WMS item level dirancang untuk memenuhi persyaratan tersebut, sehingga lebih sesuai untuk industri dengan standar kepatuhan yang tinggi.
Studi Kasus: Implementasi WMS SKU vs. WMS Item Level
Industri Farmasi
Sebuah perusahaan farmasi menggunakan WMS SKU untuk mengelola inventori. Mereka menghadapi masalah dalam melacak batch produk yang ditarik dari pasar karena tidak memiliki data detail pada level item.
Setelah beralih ke WMS item level, perusahaan dapat melacak setiap unit obat berdasarkan batch dan serial number, mempermudah proses penarikan produk.
Industri Ritel
Sebuah retailer besar awalnya menggunakan WMS SKU untuk mengelola produk dengan variasi ukuran dan warna. Kesalahan sering terjadi selama proses picking, menyebabkan ketidakpuasan pelanggan.
Dengan WMS item level, retailer dapat memastikan bahwa setiap pesanan diambil dengan akurat sesuai spesifikasi pelanggan.
Kapan WMS SKU Tetap Relevan?
Meskipun memiliki sejumlah kekurangan, WMS SKU tetap relevan dalam beberapa situasi, seperti:
Gudang dengan produk homogen yang tidak memerlukan pelacakan individu.
Operasi gudang skala kecil dengan kebutuhan manajemen inventori sederhana.
Bisnis yang mengutamakan efisiensi biaya dan tidak memiliki kebutuhan regulasi ketat.
Kesimpulan
WMS SKU memiliki kelebihan dalam kesederhanaan dan biaya implementasi yang lebih rendah, namun kekurangan dalam hal fleksibilitas, akurasi, dan kemampuan pelacakan membuatnya kurang cocok untuk operasi gudang yang kompleks atau industri dengan kebutuhan regulasi ketat.
Di sisi lain, WMS item level menawarkan solusi yang lebih lengkap dan efisien untuk mengelola inventori pada tingkat unit individu. Dengan memahami perbedaan ini, perusahaan dapat memilih sistem yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.